Kamis, 16 Juli 2015

INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM KAMIS, 16 DAN JUMAT, 17 JULI 2015 M PENENTU AWAL BULAN SYAWAL 1436 H 

 Keteraturan peredaran Bulan dalam mengelilingi Bumi juga Bumi dan Bulan dalam mengelilingi Matahari memungkinkan manusia untuk mengetahui penentuan waktu. Salah satunya adalah penentuan awal bulan Hijriah, yang didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi. Penentuan awal bulan Hijriah ini sangat penting bagi umat Islam, misalnya dalam penentuan awal tahun baru Hijriah, awal dan akhir shaum Ramadlan, hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai institusi pemerintah yang salah satu tupoksinya adalah pelayanan data tanda waktu tentu sangat berkepentingan dalam penentuan awal bulan Hijriah ini. Untuk itu, BMKG menyampaikan Informasi Hilal saat Matahari Terbenam, Kamis, 16 dan Jumat, 17 Juli 2015 M: Penentu Awal Bulan Syawal 1436 H sebagai berikut. 

1. Waktu Konjungsi (Ijtima’) dan Terbenam Matahari Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau ijtima’ adalah peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi. 
Peristiwa ini akan kembali terjadi pada hari Kamis, 16 Juli 2015 M, pukul 01 : 24 UT atau pukul 08 : 24 WIB atau pukul 09 : 24 WITA atau pukul 10 : 24 WIT, yaitu ketika nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama 113,234o . Pada saat konjungsi tersebut, jarak sudut Matahari dan Bulan (elongasi) adalah 4,745o . Elongasi ini lebih besar daripada jumlah semi diameter Bulan dan Matahari pada saat tersebut, yaitu 0,516 o . Periode sinodis Bulan sendiri terhitung sejak konjungsi sebelumnya hingga konjungsi yang akan datang ini adalah 29 hari 11 jam 19 menit. Waktu terbenam Matahari dinyatakan ketika bagian atas piringan Matahari tepat di horizonteramati. Keadaan ini bergantung pada berbagai hal, yang di antaranya adalah semi diameter Matahari, efek refraksi atmosfer Bumi dan elevasi lokasi pengamat di atas permukaan laut (dpl). Dalam perhitungan standar penentuan waktu terbenam Matahari, semi diameter Matahari dianggap 16’, efek refraksi atmosfer dianggap 34’ dan elevasi pengamat dianggap 0 meter dpl (Seidelmann, 1992). Berdasarkan hal ini Matahari terbenam di wilayah Indonesia pada tanggal 16 Juli 2015 paling awal terjadi pada pukul 17 : 35 WIT di Merauke dan paling akhir terjadi pada pukul 18 : 58 WIB di Sabang. Dengan memerhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam tanggal 16 Juli 2015 di wilayah Indonesia. Maka, secara astronomis pelaksanaan rukyat Hilal penentu awal bulan Syawal 1436 H di Indonesia adalah setelah Matahari terbenam tanggal 16 Juli 2015. Mengingat ketinggian Hilal saat Matahari terbenam pada tanggal 16 Juli 2015 tersebut masih cukup rendah, sebaiknya dilakukan kembali rukyat Hilal setelah Matahari terbenam pada tanggal 17 Juli 2015. 2 2. Data Hilal saat Matahari Terbenam untuk Beberapa Kota di Indonesia Pada Tabel terlampir ditampilkan informasi astronomis Hilal dan Matahari untuk beberapa kota di Indonesia saat Matahari terbenam tanggal 16 dan 17 Juli 2015 M. Informasi ini adalah informasi dasar penentu awal bulan Syawal 1436 H. Pada tabel tersebut, sebagaimana penentuan waktu terbenam Matahari, waktu terbenam Bulan dinyatakan saat bagian atas piringan Bulan tepat di horizon-teramati. Dalam perhitungan standar waktu terbenam Bulan, efek refraksi atmosfer dianggap 34’, elevasi pengamat dianggap 0 meter dpl dan semi diameter Bulan adalah nilainya pada saat tersebut (Seidelmann, 1992). Azimuth adalah besar sudut yang dinyatakan dari titik Utara Geografis (True North) menyusuri bidang horizon ke arah Timur dan seterusnya hingga ke posisi proyeksi benda langit di bidang horizon. Benda langit yang dimaksud adalah Bulan atau Matahari. Tinggi Hilal dinyatakan sebagai ketinggian pusat piringan Bulan dari horizon-teramati dengan elevasi pengamat dianggap 0 meter dpl dan efek refraksi atmosfer standar telah diikutsertakan dalam perhitungan. Elongasi adalah jarak sudut antara pusat piringan Bulan dan pusat piringan Matahari untuk pengamat dengan elevasi dianggap 0 meter dpl dan efek refraksi atmosfer Bumi diabaikan. Sementara FI Bulan adalah fraksi illuminasi Bulan, yaitu persentase perbandingan antara luas piringan Bulan yang tercahayai oleh Matahari dan menghadap ke pengamat di permukaan Bumi dengan luas seluruh piringan Bulan. Dari tabel tersebut di atas dapat juga diperoleh informasi umur Bulan dan lag. Umur Bulan adalah selisih waktu antara terbenam Matahari dengan waktu terjadinya konjungsi. Adapun lag adalah selisih waktu terbenam Bulan dengan waktu terbenam Matahari. Dalam perhitungan tinggi Bulan, efek tinggi lokasi pengamat di atas permukaan laut dapat diikutsertakan dengan menggunakan persamaan (1) berikut, yaitu a  a0  d , (1) dengan a adalah tinggi Bulan dari horizon-teramati dengan memperhitungkan efek tinggi lokasi pengamat dan ao adalah tinggi Bulan dari horizon-teramati tanpa efek tinggi lokasi pengamat. Adapun d pada persamaan (1) di atas adalah efek kerendahan horizon (dip) yang dinyatakan oleh d  0,02917 h , (2) dengan h adalah tinggi lokasi pengamat di atas permukaan laut dalam satuan meter (Seidelmann, 1992). Sebagai contoh untuk perhitungan di atas adalah ketinggian Bulan pada 16 Juli 2015 untuk pengamat di Pelabuhan Ratu dengan elevasi lokasi pengamat 52,685 meter dpl. Berdasarkan Tabel terlampir untuk lokasi Pelabuhan Ratu, diperoleh ao adalah 2 o 52,65’. Berdasarkan persamaan (2) di atas, nilai d adalah 0,2117o . Setelah hasil ini diterapkan pada persamaan (1) di atas, diperoleh nilai a adalah 3,0892o . Dengan demikian, setelah memperhitungkan elevasinya, tinggi Bulan di Pelabuhan Ratu dari horizon-teramati saat Matahari terbenam tanggal 16 Juli 2015 adalah 3 o 05,35”. Prosedur yang sama dapat dilakukan untuk lokasi lainnya. 3 3. Peta Ketinggian Hilal Gambar 1. Peta ketinggian Hilal tanggal 16 Juli 2015 untuk pengamat antara 60o LU s.d. 60o LS Gambar 2. Peta ketinggian Hilal tanggal 17 Juli 2015 untuk pengamat antara 60o LU s.d. 60o LS Pada Gambar 1 dan 2 ditampilkan peta ketinggian Hilal untuk pengamat di antara 60o LU sampai dengan 60o LS saat Matahari terbenam di masing-masing lokasi pengamat di permukaan Bumi pada tanggal 16 dan 17 Juli 2015. Pada kedua gambar tersebut ditampilkan pula ketinggian Hilal untuk pengamat yang berada di Indonesia. Tinggi Hilal yang ditampilkan pada kedua gambar di atas dinyatakan sebagai ketinggian pusat piringan Bulan dari horizon-teramati dengan elevasi pengamat dianggap 0 meter dpl dan efek refraksi atmosfer standar telah diikutsertakan dalam perhitungan. Sebagaimana terlihat pada kedua gambar di atas pada daerah dengan ketinggian Hilal kurang dari 0o , Hilal mustahil akan teramati karena saat Matahari terbenam Hilal sudah di bawah horizon. Ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 16 Juli 2015 berkisar antara 1,30o sampai dengan 2,91o . Adapun ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Juli 2015 berkisar antara 12,17 o sampai dengan 14,25 o . 4 4. Peta Elongasi Pada Gambar 3 dan 4 ditampilkan peta elongasi untuk pengamat di Indonesia saat matahari terbenam tanggal 16 dan 17 Juli 2015. Elongasi adalah jarak sudut antara pusat piringan Bulan dan pusat piringan Matahari untuk pengamat dengan elevasi dianggap 0 meter dpl dan efek refraksi atmosfer Bumi diabaikan. Sebagaimana terlihat pada Gambar 3, elongasi saat Matahari terbenam tanggal 16 Juli 2015 di Indonesia berkisar antara 5,31o sampai dengan 6,43o . Sebagaimana terlihat pada Gambar 4, elongasi saat Matahari terbenam tanggal 17 Juli 2015 di Indonesia berkisar antara 14,74o sampai dengan 16,38o . Gambar 3. Peta Elongasi tanggal 16 Juli 2015 untuk pengamat di Indonesia Gambar 4. Peta Elongasi tanggal 17 Juli 2015 untuk pengamat di Indonesia 5 5. Peta Umur Bulan Pada Gambar 5 dan 6 ditampilkan peta umur Bulan saat Matahari terbenam tanggal 16 dan 17 Juli 2015. Umur Bulan adalah selisih waktu antara terbenam Matahari dengan waktu terjadinya konjungsi. Sebagaimana terlihat pada Gambar 5, umur Bulan di Indonesia pada tanggal 16 Juli 2015 berkisar antara 7,17 jam sampai dengan 10,55 jam. Adapun umur Bulan di Indonesia pada tanggal 17 Juli 2015 berkisar antara 31,17 jam sampai dengan 34,55 jam. Gambar 5. Peta Umur Bulan tanggal 16 Juli 2015 untuk pengamat di Indonesia Gambar 6. Peta Umur Bulan tanggal 17 Juli 2015 untuk pengamat di Indonesia 6 6. Peta Lag Pada Gambar 7 dan 8 ditampilkan peta Lag untuk pengamat di Indonesia pada tanggal 16 dan 17 Juli 2015. Lag adalah selisih waktu terbenam Bulan dengan waktu terbenam Matahari. Sebagaimana terlihat pada kedua gambar tersebut, selisih waktu terbenam Bulan dengan Matahari di Indonesia pada tanggal 16 Juli 2015 berkisar antara 7,64 menit sampai dengan 15,13 menit dan pada tanggal 17 Juli 2015 berkisar antara 55,00 menit sampai dengan 64,66 menit. Gambar 7. Peta Lag tanggal 16 Juli 2015 untuk pengamat di Indonesia Gambar 8. Peta Lag tanggal 17 Juli 2015 untuk pengamat di Indonesia 7 7. Peta Fraksi Illuminasi Bulan Pada Gambar 9 dan 10 ditampilkan peta Fraksi Illuminasi Bulan untuk pengamat di Indonesia pada tanggal 16 dan 17 Juli 2015. Fraksi Illuminasi Bulan adalah perbandingan antara luas piringan Bulan yang tercahayai oleh Matahari dan menghadap ke pengamat di permukaan Bumi dengan luas seluruh piringan Bulan. Sebagaimana terlihat pada Gambar 9, Fraksi Illuminasi Bulan pada tanggal 16 Juli 2015 berkisar antara 0,22 % sampai dengan 0,32 %. Adapun Fraksi Illuminasi Bulan pada tanggal 17 Juli 2015 berkisar antara 1,65 % sampai dengan 2,04 %. Gambar 9. Peta Fraksi Illuminasi Bulan tanggal 16 Juli 2015 untuk pengamat di Indonesia Gambar 10. Peta Fraksi Illuminasi Bulan tanggal 17 Juli 2015 untuk pengamat di Indonesia 8 8. Objek Astronomis Lainnya yang Berpotensi Mengacaukan Rukyat Hilal Dalam perencanaan rukyat Hilal, perlu diperkirakan juga objek-objek astronomis selain Hilal dan Matahari yang posisinya berdekatan dengan Bulan dan kecerlangannya tidak berbeda jauh dengan Hilal atau lebih lebih cerlang daripada Hilal. Objek astronomis ini bisa berupa planet, misalnya Venus atau Merkurius, atau berupa bintang yang cerlang, seperti Sirius. Adanya objek astronomis lainnya ini berpotensi menjadikan pengamat menganggapnya sebagai Hilal. Pada tanggal 16 Juli 2015, dari sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam tidak ada objek astronomis lainnya dengan jarak sudut kurang dari 5o dari Bulan. Demikian juga pada tanggal 17 Juli 2015, dari sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam tidak ada objek astronomis lainnya dengan jarak sudut kurang dari 5o dari Bulan. Referensi Seidelmann P.K. (Ed.) (1992), Explanatory Supplement to the Astronomical Almanac, University Science Books, Mill Valley, CA. Informasi Lanjut Sub Bidang Gravitasi dan Tanda Waktu BMKG Bidang Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu Gedung Operasional Baru Lantai 3 Jl. Angkasa I No. 2 Kemayoran, Jakarta 10720 Telepon : (021) 4246321 ext. 3309 situs : http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Geofisika/Tanda_Waktu/ surel : gtw@bmkg.go.id